Ben
Ben
Bagian 1: Namaku Aruna
1
Bismillahirrohmanirrohim,
Namaku
Aruna. Aruna Adnan Cempaka. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai
makan cilor.
Namaku adalah namaku, yang terbaik sepanjang sejarah. Setidaknya
karena itu adalah pemberian langsung dari kedua orangtuaku. Dan kamu tahu, aku
harus benar-benar menghargainya. Sebab oleh karena kerjasama merekalah, aku
bisa mendarat sampai di bumi dengan selamat, damai, dan sentausa. Dan sekaligus
juga cantik, ya, karena seringkali pada waktu dulu aku masih bayi banyak orang
menyebutku begitu. Meskipun aku tidak tahu apakah itu benar, dan meskipun juga
aku sekarang ingat bahwa waktu itu aku masih bayi, sehingga tidak mungkin aku
mengingat kejadian yang sudah lama sekali, dan juga dari kata-kata yang
setidaknya saat itu, aku pasti belum mengerti. Kurasa kamu akan setuju, sebab
toh percuma juga, kamu tidak akan bisa membantahnya.
Tetapi sebelum itu, apa kamu tahu apa itu cilor? Baiklah, kalau
memang belum tahu. Silahkan untuk segera pergi ke google, dalam rangka mencari
tahunya sendiri. Maafkanlah aku tidak bisa membantumu. Karena sekarang aku
sedang sibuk, sibuk bersantai sambil mengetik ini di depan laptop. Ini apa? Ah,
mengapa kamu begitu kepo dan penuh penasaran, atau kiranya ijinkanlah aku untuk
nanti saja memberitahumu tentang ini. Oke, baiklah, kalau begitu. Kukira kamu
mau mengerti.
Sepertinya, aku tidak perlu menjabarkan secara detail mengenai latar belakangku. Karena memang bukan itu yang ingin aku ceritakan di sini, karena
memang bukan itu tujuanku bercerita, dan karena saat ini aku ingin, simaklah
dengan baik dan penuh toleransi.
Karena aku ingin menceritakan seseorang yang ingin kuceritakan,
yaitu dia yang hampir selalu berhasil membuatku senang, dia yang ajaib, dan
dikelilingi oleh beragam tata bahasa yang terkadang membuatku bingung apa
artinya, dan juga dia yang cukup, atau bisa dibilang sederhana.
Oh iya, serta dia yang sudah memberiku banyak pelajaran, yang
mungkin, di sekolah tidak akan kudapatkan pengetahuan macam itu dan sekaligus
kebijaksaan dalam menghadapi masalah yang pelik. Kukira aku bebas mengatakan
apapun yang aku rasakan dan penilaianku tentang dirinya. Jika mungkin kamu
tidak setuju, tetapi aku begitu.
Semua akan dimulai berdasarkan apa yang aku ingat, dan apa yang
ingin aku katakan. Nama-nama orang yang ada di dalamnya, mungkin akan aku edit,
supaya tidak menjalar kemana-mana dan tidak ada yang merasa terpanggil.
Mudah-mudahan mengerti, dan inilah ini.
2
Aku
sendiri adalah siswa di sebuah sekolahan yang bernama SMA, yaitu Sekolah
Menengah ke atas. Atau begitulah kira-kira. Sekarang aku sudah menjadi murid paling
tua di sekolah, kelas 12.
Meskipun pada saat ini, atau tepatnya pada saat setelah kenaikan
kelas, belum pernah sekalipun aku mengadakan pembelajaran di sekolah pada
umumnya, teman-temanku pun juga begitu. Karena katanya, ini hari sedang ada
pandemi, sedang ada suatu wabah yang mengharuskan kami supaya belajar dulu dari
rumah. Menyebabkan kami jarang bertemu, menyebabkan kami lama-lama jadi murid
yang kaku, menyebabkan kami lama-lama juga rindu. Tapi, ah, sudahlah. Mungkin
memanglah harus begini, supaya nanti, bila sudah bisa berjumpa, kita tumpahkan
rindu sejadi-jadi.
Tetapi
sekarang, biarkanlah aku bercerita. Ini tentang dia yang ada di bumi, dia yang
jauh, dia yang lucu, dan dia yang sekarang sudah membuatku menjadi sebuah
sarang rindu.
Bagian 2: Dia Adalah Ben
Namanya
Ben. Dia adalah manusia yang gemar bernapas menggunakan hidungnya, untuk dia
kirim menuju paru-paru. Suka jeruk, kalau sudah di kupas. Suka makan, kalau
lapar. Dan suka tidur, kalau ngantuk. Memang tidak ada yang istimewa darinya.
Hampir biasa saja. Tetapi ini ceritaku. Ceritaku yang menyangkut soal tentang
dirinya. Dia yang sekarang mungkin sudah sedang tidur dan bermimpi indah.
Sekalipun bukan aku yang mengisi mimpinya. Setidaknya aku yang akan memberikan
pengetahuan kepadamu mengenai siapa dirinya, tetapi tidak secara detail karena
itu akan sangat panjang.
Dia adalah kawanku dan sekarang sama-sama kelas 12. Bukan Cuma itu
yang sama. Tapi aku juga satu ekskul dengannya, yaitu ekskul Bola Basket dan
juga berada dalam satu tim yang sama. Meskipun dia ada di tim putra, dan aku di
tim putri. Dan kemudian inilah ini, silakan untuk dibaca, kalau memang ingin.
Bagian 3: Latihan Basket
Sore itu, di Karangduren, pada awal bulan Februari tahun 2020. Udara cukup
oke di sini, dimana? He he he. Biar kuberitahu bahwa aku sedang berada di rumah
Ben, aku datang bersama kawanku, Wati. Ada keperluan kerumahnya untuk mau
meminjam bola basket, karena sore itu adalah jadwalnya aku berlatih dengan
kawan-kawan tim basket putri. Di suatu SMP, agak jauh sebelah barat rumahnya Ben.
Kukira bakal Ben yang keluar ketika aku mengucapkan
salam dan mengetok-ngetok pintu rumahnya. Ternyata yang keluar adalah Ibunya,
menemui kami di teras rumah. Nampak matanya seakan-akan sedang mengamati
sesuatu dengan teliti, memandang ke arah kami, dan senyum. Lalu menyuruh kami
masuk dan ngobrol di ruang tamu:
"Cari Ben? lagi tidur dia, tuh, di sana!"
Tanya si Ibu, untuk kemudian nunjuk ke arah kamar Ben.
Itu di sana, kamar Ben itu, berada di depan kami. Atau
maksudku, letaknya agak masuk ke dalam, sekitar beberapa meterlah dari tempat
kami duduk.
"He he he, enggih." Jawabku "mau pinjam
bola, ada Bu?" (He he he, iya.)
"Oh, bola. Ada, sebentar ya, biar Ibu
ambil."
"Enggih, Bu" jawab Wati, aku hanya
mengangguk dan senyum.
Beliau berdiri dan masuk ke dalam, tapi kulihat Ia
membuka pintu dan masuk ke kamar Ben. Entah, mungkin mau tanya di mana bola
basketnya, atau juga sekalian membangungkan dia dan memberi kabar kalau ada Aruna
di sana, di ruang tamu.
Sekarang, lihatlah, Ben keluar dari kamarnya dengan
pakaian lusuh dan rambut yang nampak acak-acakan. Seperti orang yang baru
bangun tidur? Ya, benar, karena dia baru saja bangun dari mimpi indah, mungkin.
Ben cuma noleh sebentar, merasa ada orang yang
memperhatikan dirinya dari ruang tamu. Dia lalu mengangkat tangan dan
mengedipkan mata, pertanda mau menyapaku dan Wati.
Aku tersenyum. Entah kenapa, mukanya ingin sekali
kusiram dengan lelehan belerang. Tapi, tidak jadi. Karena? Karena aku tidak
punya. Aku tidak punya belerang itu, lagi pula untuk apa juga aku membawanya,
kan bau. Gimana, sih, kamu?
"Ini, ya, Run?" Oh, itu Ibunya Ben datang
dari balik tembok, seraya membawa bola di tangan.
"Betul, Ibu. Seratus, he he he."
"Basketan di
mana?" Tanya beliau, ketika sudah sampai di depanku
"Di SMP 7,
Bu." Jawabku "Mau latihan sama temen-temen, he he he."
"Ibu boleh
ikut?" Tanya si Ibu, tapi belum kujawab beliau sudah tanya lagi:
"Itu kenapa,
si Ben ndak ikut latihan?"
"He he he,
Ibu mau ikut?" Tawarku "Mboten, kan sore ini jadwal cewe-cewe,
Bu." (Enggak, kan sore ini jadwal cewe-cewe, Bu.)
"Ndak juga
sih, he he he. Yasudah mau berangkat, Run?"
"Enggih.
Pamit nggih, Bu. Pareng." (Iya, pamit ya, Bu. Permisi.)
"Iya. Ndak
usah ngebut-ngebut, oke?" Titah si Ibu, sambil Ia mau berdiri dan masuk ke
dalam. Nampaknya mau manggil Ben.
Terus, aku pamit.
Berdiri dulu, lalu jalan keluar, mau ke motor. Kemudian langsung terbang ke
tujuan, setelah tadi Ben sempet keluar dan cuma ngomong dari pintu:
"Titi DJ, Runa!
5 KM perjam oke?" (Hati-hati di jalan) Katanya, "Jangan ngebut Wat,
banyak lubang, ada buayanya."
"Siap
bos!" Jawab Wati, aku cuma senyum. Hemat bicara, he he he.
Itu dia bicara ke
Wati. Seolah-olah sedang memberi informasi kalau ada banyak buaya di
lubang-lubang jalan raya. Atau maksudnya kalau jatuh di situ, pasti sakit.
Seperti di gigit buaya. Kira-kira begitu, atau gimana?
Ben memang jarang
ikut latihan bersama cewe. Karena dia punya jadwal sendiri dengan
kawan-kawannya. Meskipun kadang dia ikut, saat Wati mengajaknya.
Pernah suatu hari saat aku pinjam bolanya, dia sudah
mandi sore itu, padahal hari belum sore amat, sih. Mungkin mau pergi? Tapi Wati
seakan memaksa mengajak dia untuk ikut latihan. Saat itu cuma aku dan Wati yang
mau latihan, aku lupa, mungkin Veve juga ikut, Gina juga.
Ben bilang, dia mau pergi. Enggak bisa katanya. Ya,
sudah, gak apa-apa. Tapi setelah aku sampai di tempat latihan. Tiba-tiba dia
datang bersama kawannya, Fian. Bawa bola juga karena Fian juga punya. Aku
merasa dia sudah berbohong karena tadi bilang mau pergi, tapi aku juga merasa
senang karena dia sudah datang. Tidak tahu, mungkin karena dengan adanya dia,
aku merasa aman. Karena dia laki-laki, dan aku cuma berdua dengan Wati, yang
sebagai perempuan.
Veve dan Gina
belum datang saat itu. Mereka datang sesaat setelah Ben muncul.
"Hem, tadi bilang gak bisa ikut. Penipu!"
Kataku ke Ben
"He he he,
gak tega." Katanya, "Takut juga."
"Kenapa?"
"Iya, takut
kau diculik." Katanya, sekarang dia sudah ada di depanku, tadi masih di sana,
menaruh tas."
"Siapa
berani?" Tanyaku, sambil memberikan bola ke dia, karena tadi gerak
tangannya seperti meminta itu.
"Semut
jahat, he he he."
"Ha ha ha
ha, semut nakal."
"Iya.
Sebentar, ya."
"Mau kemana?"
Tanyaku, dia balik badan dan pergi.
"Nyari
semut!" Jawab Ben ketika sudah jauh, dia harus teriak untuk itu, biar aku
bisa dengar.
"Ihh!
Ngapain!?" Tanyaku, juga setengah teriak.
Ben tak menjawab. Dia terus berjalan ke sana, sambil
seperti orang yang sedang menunduk karena harus hati-hati, takutnya menginjak
semut.
Tak lama, dia
kembali. Masih menenteng bola basket yang dibawanya berjalan-jalan. Lalu
kutanya:
"Ngapain,
sih, dicari-cari segala?"
"Mau
introgasi." Katanya
"Apanya?"
Kutanya lagi sambil senyum.
"Si
semutnya, lah. Kutanya dia nakal apa enggak!"
"He he he,
apa katanya?"
"Diem aja.
Sombong dia!"
"Ha ha ha ha, kan gak bisa ngomong semutnya."
"Oh iya.
Lupa. Hampir aja aku timpuk pakai bola." Kata Ben, matanya seperti
mencari-cari sesuatu, tolah-toleh kanan kiri.
"Terus?"
"Gak jadi,
ah, kasian. Nanti keluarganya nyariin. Terus nuntut balas padaku."
"He he he,
baguslah. Kamu nyari apa?" Aku mengikutinya ke sana, dia berjalan seperti
menuju ke bawah pohon.
"Enggak.
Capek. Istirahat dulu, he he he." Jawabnya sambil mau duduk di situ, di
bawah pohon.
"Kan, belum juga lari-lari. Udah capek aja!"
"Iya, capek
ngomong, he he he."
Setelah itu, dia
berdiri. Cuma beberapa detik dia duduk, itu juga karena aku pergi
meninggalkannya, menuju dekat ring basket. Aku kesal, kupikir dia capek bicara
denganku. Padahal aku senang. Tapi untunglah, dia langsung peka dan
mengikutiku. Berkumpul dengan yang lain.
Ben sudah siap
mau basket, juga hari yang semakin sore dengan matahari yang sedang akan
cantik-cantiknya. Tidak ada materi latihan, hanya ada rasa senang karena kami
bebas bermain, dan juga rasa capek yang berangsur datang.
Setelah itu,
istirahat, dan kami pulang. Ditemani senjakala yang bersinar oranye di langit
barat, utara, timur dan selatan. Ditemani suara tonggeret yang sudah mulai
berbunyi. Terimakasih langit, sudah mau nampak cantik. Terimakasih Ben, Fian,
dan Wati. Sudah mau capek sama-sama.
Aku memang sudah
akrab dengan Ben, dan sekarang, jadi lebih akrab lagi pula dekat. Kemudian,
semenjak itu, dia jadi makin sering ikut latihan bersamaku dan kawanku. Dia
pasti akan datang setidaknya bersama Fian, atau Remon. Mereka bertiga selalu
bareng dan bersama-sama. Entah, seperti magnet saja.
Waktu berlalu
dengan angin yang berhembus kemana-mana. Sampai timbul perasaan khusus padanya,
pada Ben. Aku tidak mengerti betul apa namanya ini, tapi yang kurasakan adalah,
setiap kali bertemu dan bersamanya ada gejolak rasa yang sulit kuungkapkan dan
kadang harus membuatku malu jika aku mengobrol dengannya.
Ini mungkin
normal, sebagai sesuatu yang wajar dirasakan oleh anak remaja SMA sepertiku.
Yang membuat diriku menjadi lebih semangat ingin berlatih. Ya, meskipun itu
juga karena dengan harapan adanya Ben disitu.
Kurasa dia baik,
ramah, dan memang friendly sejak dulu. Ini merupakan penilaian diriku diluar
rasa sukaku kepadanya. Atau karena itu, aku menjadi semakin dekat dengannya.
Baik itu di sekolah, di ekstrakulikuler, atau latihan biasa di sore hari.
Lalu pada
akhirnya ini juga berdampak pada komunikasi antara kami berdua. Berlanjut pada
keberlangsungan saling mengirim pesan whatsapp setiap hari, dan terus begitu.
Aku belum berani
bercerita kepada kawan-kawanku menyangkut soal ini. Mengenai aku yang mau ke Ben.
Dan sepertinya Ben juga begitu kepadaku. Entahlah, aku merasa belum waktunya
aku bercerita.
Bagian 4: Pekan Olahraga
1
Apa aku sudah bilang kalau akan ada pekan olahraga
tingkat kabupaten? Itu akan terjadi besok, dan aku ikut terlibat di dalamnya,
cabang basket antar SMA.
Ini masih dalam naungan bulan Februari, tapi sudah masuk
pertengahan. Hari ini adalah hari sibuk sedunia, karena aku harus mengumpulkan
serta mengisi data-data pribadiku yang nantinya akan disetor kepada panitia
pelaksana POPDA.
Kalau kamu melihat wajahku sekarang, pasti
akan tahu, kalau aku sudah tidak sabar lagi untuk bertanding di sana, gedung
basket yang bagus dengan pertandingan yang resmi.
Semua orang akan nonton, maksudku adalah
orang-orang yang menyukai basket. Meskipun sebenarnya aku kurang peduli, karena
yang kuharapkan datang adalah pamanku dan pacarnya.
Namanya Rocky, biasa kupanggil Om Rocky. Dia
masih kuliah di salah satu universitas yang ada di Purwokerto. Aku rindu
kepadanya, karena Om Rocky jarang pulang kerumah. Biasanya seminggu sekali.
Tapi itupun jarang. Sedangkan pacarnya, namanya adalah Shinta. Nama yang bagus,
dan didukung oleh wajahnya yang cantik. Dia baik padaku, karena? Karena dia
pacarnya Omku. He he he. Maksudku, dia memang baik, sebagai manusia yang
mencintai pamanku. Sehingga mau tidak mau, aku juga harus menyayanginya.
Seperti aku kepada paman.
Kalau hari sedang weekend, biasanya mba Shinta
datang kerumah. Kadang sama paman, kadang juga sendiri. Mereka bilang mau
nonton nanti ketika aku tanding. Katanya, Om Rocky masih di Purwokerto. Kalau
urusan sudah beres, langsung meluncur katanya. Dan, oke, kataku.
Ketika handphoneku berdering, kukira itu Ben.
Ternyata, tertera nama Om Rocky di situ. Jadi kuangkatlah, meskipun tidak
seperti yang kuharapkan. He he he.
"Main jam berapa, Run?" Tanya Om Rocky
"Jam 4 sore!!" Jawabku antusias
"Naik apa nanti?" Tanya dia, mungkin
maksudnya aku ke Purbalingga naik apa.
"Paling... Belum tahu deng, he he
he." Jawabku, "Paling mikrolet."
"Pemainnya masa gak tahu!!" Ledek
paman dari sana.
"He he he. Itu urusan administrasi"
Kataku membalas "Kan, aku pemain."
"Mbah lagi apa, Run?" Tanya dia
"Lagi..." Kuintip dari kamar, mbah
sedang ada di depan teve, "Asyik nonton teve, tuh." Jawabku
Belum sempat dia ngomong, sudah kuduluin:
"Udah, dulu ya, Om." Kataku
"Mau beres-beres. Bentar lagi berangkat."
"Okedeh. Tiati, ya."
"Iya."
Telpon kutunggu ditutup oleh paman, kan paman
yang nelpon duluan. Habis itu, aku beres-beres baju yang akan dipakai nanti.
Nyamperin mbah untuk mau makan. Aku seperti bayi merengek mau makan, tapi
respon mbah malah cuek sambil masih nonton teve.
"Itu ada nasi di meja, lauknya juga.
Piring di dapur sama sendok. Ambillah sendiri." Titah embah ke aku.
"Baik embahkuuuuu!! He he he."
Terus aku pergi deh ke dapur. Ambil piring
untuk siap-siap mau makan. Jadi, aku makan dulu, ya. Kamu jangan minta. Enak
aja. Aku aja dicuekin sama si mbah. Masa kamu enak-enakan minta ke aku. He he
he. Bercanda, kalau mau silakan ke sini, ke rumahku. Kita makan bareng-bareng.
Tapi, maafkanlah kalau aku salah, karena lauknya sudah kuhabisin.
2
Sekarang, sudah hampir jam 2 siang. Dan aku sudah ada
di sekolah. Kata pak Jarwo, yaitu pembimbing ekstrakulikuler bola basket, jam 2
harus sudah ada di sekolah. Harus disiplin, karena memang begitu
aturannya.
Di sana belum banyak yang datang. Baru beberapa anak
yang muncul. Aku bergabung, lagi pada ngobrolin lawan yang katanya oke-oke dan
gesit-gesit. Yang paling keras suaranya si Wati, karena memang dia itu kawanku
yang paling ceriwis dan banyak omong, sekaligus juga yang paling nyenengin
kalau bicara.
Kelak kutahu kalau lawan tandingku memang
hebat dan cepet-cepet larinya. Sebab pemainnya kecil-kecil. Kalau timku kan
besar tinggi dan gendut-gendut. Tapi, ya, itulah, kebetulan kemampuan kami
sedikit di atas mereka. Sehingga kami bisa jadi lebih mudah memenangkan game
itu.
Ben nonton, yang lain juga nonton. Meskipun
aku gak tahu Ben nonton siapa, yang lain juga. Tapi jika Ben menyadarinya, maka
harusnya dia tahu, kalau sedang ada seorang perempuan yang terus
memperhatikannya dari sini. Dari tempatku duduk di bangku pemain. Yang adalah
aku sendiri orangnya.
Hey! Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku
lihat nampaknya dia senyum kepadaku. Lalu, kubalas senyum kepadanya tetapi biar
kubuat hanya dia yang tahu, orang lain jangan. Caranya tidak perlu kamu tahu.
Cobalah saja sendiri.
Peluit berbunyi, tanda bahwa pertandingan
dimulai. Kayaknya aku gak perlu menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya
terjadi di lapangan. Tetapi, seperti yang kukatakan tadi, bahwa tim kami menang
jauh dari lawan. Sehingga kami berhak lolos untuk game berikutnya.
Alhamdulillah.
Pasca selesai, aku keluar, berniat untuk nemui
Ben yang sudah keluar duluan. Ketika aku sampai di parkiran depan, ternyata dia
lagi pemanasan bareng kawan-kawannya. Oh, iya, aku sampai lupa kalau setelah
ini dia langsung main. Tim putra SMA kami.
Aku sengaja mengurungkan niat untuk menemuinya,
tidak perlulah pikirku, dia harus fokus dan konsentrasi penuh. Sehingga benar,
pertandingannya cukup seru, karena skor keduanya saling kejar-kejaran. Ben main
bagus, dan agak lama juga. Mungkin pelatih lagi percaya sama dia. Sehingga pada
akhirnya tim putra kami juga menang. Sehingga berhak juga mereka lolos ke babak
selanjutnya. Di benakku, hanya ada alhamdulillah, lagi dan lagi. He he he.
Seberes makan di warung makan dekat gedung
tadi, kami semua pulang dan masih menaikki mikrolet yang sama. Supirnya cukup
asyik untuk penampilannya yang sederhana. Dia seringkali melawak yang pada
akhirnya berhasil membuat kami tergelak. Supir yang ajaib dan menyenangkan. Aku
duduk di paling belakang bersama Gina, Hanum, dan Nanda. Ben ada di depan
bersama siapa aku lupa.
"Berarti besok main lagi, ya, pak?"
Tanya pak supir ke pak Jarwo.
"Iya, dong. Menaaaang!!" Seru pak Jarwo
seperti bangga.
"Main jam pira, bro?" (Main jam
berapa, bro?) Itu pak supir lagi tanya sama yang di sebalahnya, aku lupa siapa
dia, kayaknya si Edo.
"Pada bae, kayane, pak." (Sama aja,
kayaknya, pak.) Si Edo jawab
“Oh?
Oke.”
Mikrolet melaju dengan kecepatan yang cukup.
Tetapi itu tidak kerasa, karena angin semilir yang masuk lewat jendela sudah
membuatku tidur di sana. Di kursi panjang bersama Gina yang juga sudah pulas.
Sehingga yang aku tahu adalah ketika Laksmi berusaha membuat aku bangun, ketika
itu mikro sudah sampai di halaman sekolah. Terparkir rapi dan kulihat sudah
pada duduk-duduk di teras ruang guru yang luas.
Aku pergi ke sana, bergabung bersama yang
lain. Kurebahkan lagi badanku untuk kemudian duduk dan minum. Kubuka handphone
untuk memberi kabar Om Rocky kalau aku sudah sampai di sekolah. Tadi, di sana,
dia nonton bareng pacarnya. Terus juga nonton Ben juga dengan timnya. Dia
memang kenal Ben sudah sejak dulu. Karena paman Ben adalah kawannya, kawan Om Rocky.
Kemudian, aku mencari kontak Om Rocky untuk
kemudian aku kirimi pesan Whatsapp:
"Kepada Om Rockyku, he he he. Aku udah
ada di sekolah. Baru bangun. Mau cuci muka dulu, abis itu beres-beres mau
pulang. Terimakasih udah dateng. Besok lagi, ya, ha ha ha ha. Bawa teh tarik,
aku mau, oke. Bye."
Setelah itu aku pulang, setelah melaksanakan
apa yang tadi aku katakan kepada paman. Aku pergi ke parkiran dalam rangka
ambil motor, Gina ikut aku. Lalu, aku antar dia sampai rumah, kebetulan arahnya
sama. Aku langsung pamit ke Gina, ketika dia di depan pagar rumahnya. Hati-hati
katanya. Terus kuberi jempol, tanda aku bilang oke.
Oh, iya, tadi sebelum pulang. Aku ketemu Ben
di parkiran, dia bareng rindo. Ben nawarin supaya aku mau diantar olehnya,
tetapi aku menolak. Bukan karena aku gak mau. Tetapi itu sudah malam, Ben juga
nampak lelah. Jadi kusuruh langsung pulang saja setelah dia mengantar Rindo.
Entah kenapa, dia nurut. Pasti memang capek.
3
Hari berikutnya, Rabu, 12 Februari tahun 2020. Adalah
harinya, dimana dilanjutkannya pertandingan sampai Final. Ben dan
kawan-kawannya akan menghadapi lawan tangguh, yang adalah musuh bebuyutannya.
Itu tidak mudah, dan aku tahu, kami semua tahu. Tapi mereka tetap optimis,
pede, dan tetap riang. Aku pikir itu akan membuat Ben cemas dan kacau
pikirannya, tetapi tidak. Kulihat, dia biasa saja.
Mikrolet membawa kami pergi ke sana, kembali ke gedung
basket, Purbalingga. Pak Supir masih sama seperti kemarin, dari rambut sampai
kakinya, dari bicara hingga lawakannya, khas dan ketawanya menular. Kecepatan
mikrolet stabil dan oke. Aku memilih untuk mendengarkan musik-musik pilihan
dari handphone dengan menggunakan headset. Aku rasa itu membantuku untuk
menjadi lebih tenang. Seperti yang pernah Ben katakan.
"Harus tenang, biar menang."
Katanya, tadi waktu masih di sekolah.
Kami masih sedang duduk di depan UKS. Menunggu
bis datang.
"He he he. Enggih, mas." Jawabku
"Ada yang bilang lawannya pake dukun, Run?"
Tanya Ben, sambil dia benerin tali sepatunya yang kendor
"Masa? Siapa bilang?" Tanyaku balik,
merasa perlu konfirmasi yang jelas.
"Iya. Katanya begitu." Jawabnya.
"Ihh!! Kata siapa?"
"Ada. Tuh, kata Rindo." Jawabnya
lagi, sambil nunjuk Rindo yang lagi jalan ke arah kami.
Merasa terpanggil, Rindo datang, mendekat.
Apa, katanya. Tapi gak digubris sama Ben. Aku lihat Ben seperti nahan senyuman
di mulutnya. Aku jadi lebih curiga semenjak itu. Jadi kutanya Rindo:
"Ben bilang, lawanku pakai dukun. Bener
gitu, Ndo?"
"Hah?"
"Bener, lawanku pakai dukun?"
kutanya lagi Rindo yang sepertinya belum paham dan nampak bingung.
"Gak tau lah. Iya gitu?" Tanya dia
"Ben bilang, kamu yang cerita."
"Ngarang!!" Seru Rindo, sambil dia
melirik ke Ben. Terus masuk ke UKS. Mungkin mau tiduran.
"Bennn!!" Kataku ke Ben, seperti
teriak yang ditahan.
"He he he. Iya, pas kecil merekanya, Runa."
Kata Ben ke aku
"Maksudnya?" Kutanya dia
"Kan, pas kecil mereka pada pake
dukun." Katanya "Dukun bayi!! He he he."
"Buat ngurut." Sambungnya
"Ihhhh!! Ha ha ha ha. Kok gak kepikiran?"
Kataku, seperti ke diriku sendiri.
"Iyalah, jelas." Katanya
"He he he. Kenapa?" Kutanya
"Kan, sukanya mikirin aku." Jawab Ben,
sambil dia mau berdiri.
"Kalau enggak?"
"Berarti kamu bohong."
"He he he. Iya." Kataku ketawa.
"He he he. Boleh aku ke dalam?"
Tanya dia
"Boleh. Mau apa?" Kutanya
"Tidur. Ngantuk." Katanya
"Heh! Kan mau berangkat?"
"Iya, nanti kalau mikro datang." Katanya
"Kamu kesini. Bangunin, ya?"
"Hem. Merepotkan!!." Jawabku, seraya
mengacak-acak rambutnya.
"He he he. Terimakasih." Katanya
Terus ben pergi, masuk ke dalam UKS. Kayaknya
mau ke Rindo. Dia lepas sepatunya, lalu dengan suara riang dia bilang: spadaaa!
Permisi mau lewat. Itu dia menyapa anak PMR yang pada jaga di meja dekat pintu.
Terus dia buka pintu kamar untuk ikut tiduran bareng Rindo yang udah duluan di
sana.
Sekarang lihatlah, aku sedang berjalan ke
sana, ke gazebo, untuk bergabung bersama yang lain. Tapi mampir dulu di
koperasi sekolah. Kamu tahu, bicara sama Ben dan banyak ketawa, itu bikin aku
haus dan ingin minum. Sehingga aku harus segera membelinya di sana, di
koperasi. Dan kemudian langsung bergabung bersama kawan-kawan, yang nampak lagi
pada asyik ketawa-ketiwi juga.
4
Aku langsung gugup ketika ada yang memberi kabar bahwa
mikrolet sudah datang. Sudah ada di depan, kata pak satpam yang tadi lagi jaga
di posnya. Dengan itu, maka aku harus cepat-cepat ke UKS untuk bangunin Ben
yang kemungkinan tidur beneran. Mungkin semalam ia begadang, soalnya tadi
matanya nampak sayu.
Segera bergegas menuju UKS yang sejuk, aku melewati
lorong-lorong yang sepi, untuk kemudian langsung muncul di koridor depan UKS.
Kutanya kepada mereka yang ada di situ, kayaknya anak PMR, mengenai keberadaan Ben
apakah masih ada di dalam.
"Baru aja keluar, mba." Kata
seorang perempuan, kurasa dia adik kelas.
"Kemana?" Tanyaku
"Gak tahu, tuh."
"Oke, makasih."
"Sama-sama." Katanya
Aku pikir Ben sudah ada di depan. Jadi aku
langsung pakai sepatuku untuk mau ke sana, berkumpul dengan yang lain. Tapi
ketika aku baru saja beranjak dari kursi, dan sudah akan berjalan, datanglah
orang yang kukenal. Dia adalah Ben, jalan sendirian dari arah gudang. Dia
memerlukan senyum untuk menyapaku. Dan mulutnya seperti orang sedang bernyanyi,
tapi lirih.
"Darimana?" Kutanya dia
"Siapa?" Jawab Ben, sambil mau
duduk
"Kamu lah, darimana?"
"Oh? Darimana, ya?" Jawabnya
"Dari kantin minta minum, terus ke WC minta air, terus ke pohon minta
wangsit, terus ke kamu minta..." Ben menghentikan ucapannya, sekarang dia
sudah duduk di kursi yang kududuki tadi, sambil seperti berpikir.
"Minta apaaa?" Kutanya
"Minta dijemput, he he he." Katanya
"Hayuu mikronya udah di depan."
"Sebentar." Katanya
"Mau apa lagi?"
"Napas, he he he."
"Ihh!! Ayooo ah!" Kuseru dia tapi
kutahan karena banyak orang di UKS.
Kemudian, aku tarik Ben supaya mau jalan.
Tapi cuma sebentar, setelah itu dia mau mandiri. Untuk jalan tanpa dituntun ke
tempat tujuan. Yaitu mikrolet yang sudah menunggu. Sambil jalan dia nanya aku
tadi dimana, dicariin tapi gak ketemu, katanya, begitu.
"Emang kamu nyari dimana?" Kutanya
"Di botol aqua." Jawabnya
"Ha ha ha ha, emangnya aku jin!!"
Aku ketawa, Ben juga.
"Jintaaaa." Katanya
"He he he, cinta maksudnya?"
Kutanya lagi
"Bukan. Jinta itu yang untuk
spidol."
"Ha ha ha ha itu tinta, Bennn."
"Oh, iya, ganti nama?"
"Emang dari dulu gitu."
"Gitu, ya." Katanya "Bilangin
ke si spidol, maaf, salah sebut."
"He he he," aku ketawa "Nanti,
ya. Cepet ah. Udah ditunggu."
Maksudnya sudah ditunggu kawan-kawan yang
lain. Ben ini kayaknya sengaja dilama-lamain biar terlambat. Terus biar nanti
dimarah sama pak Jarwo. Aku sih gak mau. Dia aja sana, bikin orang repot aja.
Dia ini juga, bikin orang senang aja. Lagi-lagi dia ini, bikin orang betah aja
lama-lama ngobrol dengannya.
"Baik nyonyah!" Jawab Ben, sambil
mempercepat langkahnya, hampir berlari.
Terus, kami sudah ada di bersama yang lain.
Ternyata tepat waktu, pak Jarwo baru beres ngurusin berkas. Gak jadi deh,
dimarah olehnya. Sehingga aku tahu kalau hari itu adalah harinya, hari dimana
aku mengenal sisi lain dari Ben. Instingnya kuat, seolah-olah dia tahu kalau
nanti tidak akan dimarah pak Jarwo. Seolah-olah dengan berjalan lambatpun, kami
akan sampai dengan selamat dan juga tepat waktu.
5
Waktu sudah pukul 3 sore ketika kami sampai di sebrang
gedung basket itu. Satu persatu berangsur turun dari mikrolet. Ada yang bawa
bola, ada yang bawa aqua, dan aja juga yang cuma bawa peralatannya sendiri.
Termasuk aku. Ketika menyebrang jalan untuk menuju gerbang gedung, aku lihat Ben
tidak langsung masuk. Melainkan ke arah lain di sebelah gedung, kawan-kawannya
yang tadinya sudah di gerbang pun jadi batal masuk karena mereka langsung
ikutin Ben ke sana, kayaknya mau nunggu Ashar. Entahlah.
Pukul 4 timku tanding. Dan sekarang kamu lihat aku
lagi pemanasan di luar, bareng juga dengan lawan mainku. Tapi agak berjauhan.
Semua berhitung sampai pemansan selesai dan langsung masuk lagi ke dalam
gedung. Menemui pelatih.
"Udah siap?" Tanya pelatih
"Siap coach!!" Jawab kami semua
bebarengan.
"Oke. Main yang tenang dan fokus. Tembak
kalau ada kesempatan." Katanya
"Sekarang coach?" Sergah Wati
kemudian
"Ya, nanti, lah. Kan masih
briefing" Jawab pelatih
“Ha
ha ha ha ha.”
Aku tertawa, Wati juga, Gina juga, semua
ketawa mendengar Wati begitu. Pelatih cuma senyum dan geleng-geleng kepala.
Peluit berbunyi. Kami main. Kebetulan aku
jadi starter five kala itu, sudah lupa juga siapa saja yang main bareng
pertama. Tapi yang jelas, ada Ben di pinggir lapangan. Menonton kami dengan seksama.
Menontonku dengan penuh biasa saja. Karena memang dia biasa saja.
Kalau sedang game, waktu itu bergerak lebih
cepat. Tahu-tahu sudah selesai, dan syukurlah kami dapat menang lagi. Jadilah
nanti akan melaksanakan upacara terpenting: adalah game final namanya.
Setelah itu, giliran tim putra main. Dan ada Ben
di dalamnya. Ketika kawan-kawannya sudah pada pergi untuk cek rapot. Dia malah
masih sibuk mencari rapotnya. Ada-ada saja. Terus ketika sudah ketemu, bukannya
buru-buru lari, dia malah nyamperin aku dulu.
"Selamat, Runa." Katanya
"He he he, makasih. Udah sana."
Jawabku
"Iya. Beri aku semangat."
"Semangat, Ben. He he he."
"He he he, langsung."
Terus abis itu dia lari. Abis itu dia main.
Dan seperti biasa. Pertandingan antar tim putra memang selalu seru dan sengit,
sekaligus juga menegangkan karena nampaknya tim putra kami kewalahan. Meskipun
sempat mengejar di pertengahan, tapi energi mereka sudah habis di akhir ronde.
Jadilah, mereka harus terima keunggulan tim lawan. Jadilah mereka kelihatan
sedih. Jadilah ada salah satu yang menangis. Tapi, Ben tidak.
Terus kami keluar, semua keluar. Untuk pergi
dan berkumpul di parkiran depan. Pelatih memberi semangat kepada tiap pemain,
dan memberikan apresiasi atas usahanya sampai akhir. Tidak apa-apa, katanya.
Ini biasa dalam permainan. Harus maklum, mereka memang hebat.
Kuingat
hari itu sudah mulai senja ketika langit nampak luas, sudah hampir maghrib
bersama suara orang mengaji di kejauhan, dari semua arah mata angin. Itu
seperti sesuatu yang sengaja disajikan oleh sore kepada kami untuk bisa
merasakan kekalahan dengan lebih nikmat bersama senja, dan udara yang mendukung
beberapa diantara kita untuk mulai menangis, karena kalah.
Kulihat memang Ben gak nangis, cuma nampak
sedih mukanya. Kemudian semua berhasil ditenangkan oleh mereka sendiri, ada
juga yang pacarnya datang terus nyemangatin, macam-macamlah. Aku mengerti
perasaannya, mereka sedih bukan hanya karena kekalahan di hari itu, tetapi juga
kekalahan di waktu sebelumnya, dan dengan lawan yang sama pula. Sehingga mereka
gagal lagi ke final, dan pupus harapan menjadi juara.
Aku pergi untuk menemui pamanku di sana, di
parkiran motor. Dia bersama pacarnya, kak Shinta. Mereka memberiku ucapan
selamat karena sudah menang, dan turut berduka karena tim putra gagal. Ketika
itu Ben tidak jauh dari kami. Paman melihatnya lalu mendekat kepadanya, seraya
berkata:
"Udah, gak usah sedih. Biasa aja."
Kata pamanku ke Ben, sambil menepukkan tangannya ke bahu Ben.
“Weh, mang! Kalem, biasa. Akting aja laaah."
Jawab Ben, ia nampak lebih ceria dari yang tadi.
"Ha ha ha ha, baguslah. Aku pulang
dulu." Kata pamanku lagi.
"He he he, iya. Tiati."
Kemudian Om Rocky pergi dengan motornya,
setelah tadi pamit padaku. Katanya ke sini lagi kalau final mulai. Mau cari
makan dulu bilangnya. Oke, silakan, jawabku.
Kemudian, makanan datang. Kami semua makan
bareng-bareng di sebelah parkiran motor. Tempatnya cukup luas untuk kami
sama-sama duduk berlesehan di bawah. Seketika Ben mendekat ke arahku, sambil
masih mengunyah makanannya. Dia ada tepat di depanku sekarang. Makanan tidak
dihiraukan, dia menyantap sambil terus memandangku dan sesekali tersenyum
meledek.
Seharusnya ini kebalik, harusnya aku yang
meledeknya karena sudah kalah. Tapi kenapa jadi begini. Dia lakukan dengan
sikap seolah-olah baginya itu adalah hal biasa, padahal sungguh, Demi Tuhan,
aku sedikit gugup ketika dipandanginya dengan cara begitu. Menyebabkan aku
harus memilih memindah posisi dudukku, sehingga dengan itu, aku dapat
menghindar dari pandangannya yang dalam.
Semua sudah beres. Kata pak Jarwo kami
beristirahat dulu di rumah Bu Wulan, salah satu guru kami di sekolah. Rumahnya
tidak jauh dari sini sehingga mikrolet langsung meluncur cepat ke sana. Padahal
waktu itu aku ingin sekali berfoto bersama Ben di sana. Tetapi sampai kami
pergi, Ben tak kunjung mengajakku juga. Ya, sudah, apa boleh buat. Lain kali
saja.
Kelak, Ben bilang kalau sebenarnya dia ingin
mengajakku foto. Tetapi terhalang malu kepadaku bagaimana harus bicara. Dan
juga malu kepada yang lain, kalau sampai ada yang melihat dan berpikir
kemana-mana. Jadilah dia memutuskan untuk menunda prosesi itu.
6
Babak final tiba. Perasaanku tegang dan yang lain juga
nampak begitu. Kamu pasti tahu rasanya kalau kamu pernah mengalami kejadian yang
sama, babak final. Tetapi harus kucoba patahkan rasa tegang ini, supaya aku
rileks. Meskipun pada akhirnya aku tidak pernah bisa. Sehingga yang terjadi
adalah kami menelan kekalahan malam itu. Ya Tuhan. Pedih sekali rasanya.
Harus diakui, tim lawan begitu kompak dan skillnya
jauh di atas kami. Kawan-kawanku sudah mau berusaha sampai begitu letih. Adapun
kami kalah, mungkin memang waktunya kami berbagi. Ini mungkin sedikit
menyombongkan diri, tetapi harus kulakukan agar kamu tahu, agar aku tidak
terus-terusan menyesal. Kuberitahu bahwa tahun kemarin timku yang juara. Jika
sekarang harus mereka, ya, oke-oke saja. Ini adalah kemampuan kami dengan cara
yang lain, ini adalah kebijaksanaan kami untuk saling berbagi. He he he,
setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk menghibur diri, dan juga
kawan-kawanku.
Terimakasih semua, sudah berusaha.
Terimakasih, terimakasih banyak panitia POPDA dan yang ikut terlibat di
dalamnya. Aku kenang, aku suka.
"Gak apa-apa." Kata Ben di
mikrolet, dia duduk di depanku persis, "Aku yang kalah duluan aja biasa
gini, he he he."
"Tau lah. Ini pediiihh tauuk!"
Kataku ke dia, sambil mau nangis ini mata udah panas. Tapi suara kubuat lirih.
Kamu pasti tahu kenapa.
"Nanti, kita beli eskrim." Katanya,
berusaha menghibur
"Asli?"
"He he he, kalau ingat."
Aku jadi seperti ingin berdiri dan berkata
kepadanya:
"He he he. Akan aku ingatkan."
"Yaaahh, aku mau amnesia dulu,
lah."
"Ha ha ha ha, dasar curang."
"Sekarang, tidur," katanya
"Nanti kubangunkan, gantian."
"Siapgrak!!" Jawabku, mencoba
meniru bahasanya.
Malam itu, angin mendesir di balik jendela
mikrolet. Berusaha untuk masuk dan membuatku tertidur, yang lain juga. Aku
tidak tahu harus bagaimana. Aku sedih karena kalah. Tapi juga senang karena ada
Ben yang langsung ada ketika aku membutuhkannya. Seolah-olah dia punya jurus
untuk cepat tanggap dalam memposisikan dirinya. Seolah-olah dia memang
ditugaskan untuk membuatku selalu bisa tersenyum lagi pula tertawa.
Seolah-olah, sekarang dia bisa menyihirku supaya tertidur. Dan itu berhasil,
aku sudah tertidur sekarang. Terimakasih malam, terimakasih Ben. Dan
terimakasih Tuhan, sudah baik dengan mengirim dia ke bumi. Aku suka.
Bagian 5: Toko Sepatu
Ketika Ben datang, ia menaruh motor di parkiran depan. Atau halaman luas di
depan toko milik nenekku. Dia memang sudah bilang tadi di telepon, mau ke sini
katanya, rindu bilangnya. He he he, aku juga, tapi tak kukatakan, di dalam hati
saja. Kujawab oke Ben, kutunggu, begitu.
Ben seperti orang yang sedang merapikan rambut di
depan cermin, dan mulutnya seperti orang yang sedang merapalkan do'a. Mungkin
itu adalah do'a dibalik ketenangannya, di setiap kondisi yang beragam. Mungkin.
Tak lama, dia datang. Dia pakai baju berkerah warna abu-abu dan
celana pendek warna cokelat tua. Penampilannya cukup oke, dan nampak sudah
mandi. Mungkin iya, karena waktu itu sudah pukul setengah lima sore. Juga ada
sebuah topi melekat di kepalanya, lalu ia putar topi itu menghadap ke belakang,
macam seperti si bolang: bocah tualang.
Nenek sedang ada bersamaku ketika itu, juga
ikut menyambut Ben ketika datang. Dengan cara senyum dan menjawab salamnya,
seperti apa yang aku lakukan kepadanya. Ben kemudian tersenyum ketika nenekku
bertanya bagaimana kabarnya hari ini. Kemudian, alhamdulillah katanya:
"Mbah gimana?" Tanya Ben ke nenekku
"Masih oke dan sehatkah? He he he."
Ben memang memanggil nenek dengan embah.
Artinya sama saja. Atau mungkin sebutan itu lebih enak dan kerasa dekat.
"Alhamdulillah," jawab nenek,
"Duduk dulu, itu ambli kursi. Temenin Runa, ya."
"Siapgrak!!" Seru Ben, sambil
seperti mengangkat tanganya ke dahi. Bagai orang yang lagi hormat kepada
bendera.
"Kemarin," tanya nenek
"Katanya ada kecelakaan, ya, di tempatmu?"
"Eh?" Ben diem sesaat
"Gak tahu itu mbah." Jawab Ben
"kabarnya, sih, gitu. He he he."
Aku tahu Ben sedang berbohong. Dan aku tahu
kenapa ia begitu. Semalam, di telepon Ben cerita banyak soal kejadian
kecelakaan di depan rumahnya, ketika itu dia baru pulang latihan basket. Hari
sedang maghrib katanya.
Di telepon dia bilang dia was-was dan ngeri,
korbannya meninggal. Dan banyak darah mengalir di jalan itu, kebetulan sedang
gerimis, jadilah darah mengalir terus ke bawah. Banyak orang mengerumuni mayat
yang terkapar di jalan dan ditutupi daun pisang. Ben nampak lihat tangan si
mayat. Dia jadi merinding sampai rumah. Jadi, mungkin karena itu dia tidak mau
mengungkitnya ketika nenekku bertanya tentang itu. Sehingga mungkin bisa
membuat dia ingat lagi tentang kejadian kemarin. Aku mengerti, jadi aku cuma
berusaha agar nenek tidak melihat aku yang sedang senyum-senyum sendiri melihat
ekspresi Ben yang langsung berubah.
"Oh, gitu. Yaudah, kirain tahu."
Jawab nenek lagi
"He he he, nanti pulang, cari
tahu." Kata Ben memberi harapan.
"Iya. Yaudah, silakan dilanjut."
Setelah itu nenek permisi pergi, untuk masuk ke dalam.
Meninggalkan dua remaja yang pada mau ngobrol. Yang adalah aku dan Ben.
Aku cuma senyum melihat dialog mereka,
seperti hanya ingin mendengar, karena belum giliranku bicara.
"Boleh duduk?" Tanya Ben ke aku,
sambil menenteng kursi yang sudah diambilnya.
"Silakan tuan," kataku senyum,
"Kalau memang mau tetap berdiri, gak apa-apa, he he he."
"He he he. Atau tiduran aja, yuk?"
Katanya
"Ih... Gak mau. Kotor!!"
"Yaudah, iya. Gimana? Toko aman?"
Tanya Ben sambil ia mau duduk. Matanya melihat sekeliling, seperti sedang
memastikan kondisi toko. Ini baru pertama kalinya dia ke sini.
"He he he, aman." Jawabku,
"Kamu darimana?"
"Aku?"
"Iya, darimana?"
"Dari situ!" Kata Ben sambil nunjuk
arah motor.
"He he he. Maksudku, sebelumnya
darimana?" Kataku ketawa
"Oh?" Dia bagai berpikir,
"Warung pak Silo, beli jangkrik."
"Oh, jangkrik?" Tanyaku penasaran
ingin tahu, karena tadi Ben gak kelihatan bawa jangkrik.
"Iya."
"Mana?"
"Langsung kulepas, semua."
Jawabnya, "Tuh, kan, gak ada?" Sambil dia melihatkan telapak
tangannya yang kosong.
"Kok? Kenapa dilepas?"
"Iya, tadinya mau ku kasih ke
kamu." Katanya, "Tapi gak jadi."
"Aku gak suka jangkrik. He he he."
Aku senyum
"Iya. Makanya kulepas, kan gak
suka."
"Taunya gak suka?" Kutanya
"Tanya orang" Katanya
"Hah? Ke siapa?"
"Orang, Runa. Kan, ada orang lagi mau
beli juga." Kata Ben
"Kutanya ke dia: mas, Aruna suka
jangkrik gak ya? Terus orangnya mikir, bingung, ngeliatin aku. Serius orangnya,
terus paling gak suka, gitu, dia bilang." Sambung Ben
"Ha ha ha ha ha. Terus orangnya
kemana?" Kutanya
"Terbanglah!!" Seru Ben
"Hah?.. Kok terbang?"
"Iya, orangnya burung. He he he."
"Ha ha ha ha. Aneh. Terus ngapain
dibeli, sih?"
"Gak tahu, pengin aja." Katanya
Terus habis itu dia mainin gelang yang ia
pakai. Karena tadi aku komplain kenapa banyak banget yang dipakai. Biar
berguna, katanya. Maksudnya biar gelangnya berguna. Di rumah banyak katanya.
Daripada nganggur, nanti hilang. Dia bilang, gelang juga punya perasaan, harus
dijaga dan dirawat. Bla bla bla bla bla.
Tapi aku tak percaya. Aku cuma senang lihat
dia bicara. Bercerita tentang hal yang sebenarnya enggak perlu. Bercerita
tentang hal yang gak penting. Tapi itulah Ben. Ben yang sudah mandi. Ben yang
datang ke toko cuma mau ngasih tahu kalau nanti, katanya mau pergi ke
saudaranya. Mau bakar-bakar dan masak babi. Oh tentu saja aku ketawa dan juga
tak percaya.
Sementara langit sudah sedang senjakala,
komplotan awan berubah jadi merah, kuning, dan oranye ketika mendapat pancaran
dari matahari yang sudah ada di bawah. Kemudian, Ben pamit pulang. Aku manggil
nenek di dalam, terus keluar lagi, bareng nemuin Ben.
"Kok, udah mau pulang?" Tanya nenek
ke Ben
"He he he, enggih. Maghrib. Pamit pulang
mbah." Jawab Ben, sambil bergerak untuk salim dengan nenekku.
"Iya, hati-hati, sandaikala."
(Maksudnya sedang akan maghrib)
"Siapgrak!!" jawab Ben, seraya
mengangkat tangan lagi, dan menaruhnya di dahi.
Lalu, aku mengikuti Ben yang berjalan keluar
menuju motornya. Mengikuti Ben yang sudah akan pergi. Menyebabkan aku jadi
merasa sepi, menyebabkan aku bakal sedih, dan menyebabkan aku harus siap
menanggung rindu.
"Pulang dulu, ya, Run." Katanya,
sambil menyalakan motor.
"Iya, tiati." Jawabku, Ben
mengangguk.
Motor membawanya pergi jauh, sampai akhirnya
tak terlihat lagi di pertigaan sana. Mudah-mudahan selamat sampai rumah.
Mudah-mudahan besok ketemu lagi. Mengobati rindu yang sudah akan langsung
tumbuh petang ini juga.
Ya sudah, aku masuk dulu. Mau ke nenek. Tapi
langit sedang bagus, aku juga ingin mengabadikannya di dalam kemampuan ponselku
dalam merekam segala apa yang aku ingin. Dan, selamat sore, selamat menikmati
senja di akhir bulan Februari, yang hangat dan romantis.
Bagian 6: Mba Lia
1
Banyak waktu berlalu, dengan begitu romantis, atau
juga biasa-biasa saja, karena Ben sering memberiku puisi hampir setiap hari.
Puisi yang enak dibaca dan selalu berhasil membuatku tersenyum, kadang juga
ketawa karena isinya, kupikir seperti sedang melawak tetapi juga membuatku
merasa nyaman olehnya.
Tetapi bukan cuma itu, sesekali dia juga datang
kerumah ketika hari libur, sabtu atau minggu. Pernah suatu hari dia datang
pagi-pagi ke rumah, aku lupa itu hari sabtu atau minggu. Tetapi dia juga nampak
belum mandi, dan aku juga sama sepertinya, belum juga.
Mendengar dia mau datang, segera aku cuci
muka, karena itu masih pagi sekali. Ya, meskipun matahari sudah kelihatan
terang. Dia memberi kabar ketika di telpon, mumpung lagi di luar katanya, cari
udara segar.
"Kau suka burcangjo?" Dia bertanya
padaku, maksudnya adalah bubur kacang ijo
"Sss.. suka, kenapa gitu?"
"Aku lagi di depan pasar," katanya,
"ada burcangjo. Kau mau?"
“Eh? Gak usah, merepotkan."
Suaranya memang bising di telpon, seperti
banyak orang berbicara dan kendaraan yang lewat.
"Oke." Katanya lagi "Biar
kubelikan. Kau tunggu di rumah."
"Ishh!! Gak usah, Ben."
Belum dijawab, sudah mati saja telponnya. Tak
lama dia datang dengan motornya. Kemudian dia parkir motor di halaman depan
rumahku.
Aku tahu dia sudah sampai ketika aku dengar
ada orang salam dan mengetuk-ngetuk pintu. Aku yakin itu pasti Ben dan dugaanku
benar. Dia kusuruh masuk, tetapi sebelumnya kusuruh lepas sandal dulu. Ketika
itu, embah ada di rumah. Masih di dapur sedang ada acara masak, buat nanti aku
sarapan maksudnya.
Embah keluar saat aku panggil untuk ada perlu
menemuinya, Ben mencium tangan embah seperti seorang cucu kepada neneknya.
Seperti biasa Ben ditanyai banyak hal, dari mulai kabar dirinya sendiri, sampai
ibu dan ayahnya. Semua dia jawab dengan lahap, dan tepat sasaran. Maksudku,
pertanyaannya dijawab dengan gampang, karena itu pertanyaan yang mudah.
"Kamu anaknya pak Harto, ya?" Tanya
embah ke Ben
"Bukan, mbah." Jawab Ben
"Lah, terus?" Tanya mbah lagi,
seraya memandangku seperti orang yang butuh konfirmasi
"Saya anaknya bu Rahayu, he he he."
"Ha ha ha ha."
Aku ketawa, Ben juga, Embah juga. Rahayu
adalah nama ibu Ben, sedangkan pak Harto juga adalah bapaknya. Sehingga itu
cukup baik itu membuat aku tertawa. Berani-beraninya dia mengerjai seorang
nenek, seorang nenek yang baik. Yang adalah nenekku, yang baik sepertiku. He he
he.
"Mau minum apa, Ben?" Tanya embah
lagi
"Apa, ya?" Ben bagai berpikir,
"Gak usah repot-repot, mbah” katanya, “air zam-zam aja."
"Itu merepotkan!!" Sekarang aku
yang jawab, dan kami tertawa lagi.
"Atau buat sendiri aja?" Tanya
embah
"Iya, buat sendiri aja." Katanya
"Biar, Runa, buatkan." Kataku
"sebentar, ya." Terus aku bergegas pergi ke dapur, melaksanakan
tugas.
Kulihat dari jauh, Ben masih ngobrol bersama
nenekku. Nampak mereka masih asyik ketawa-ketawi bareng dan terus begitu sampai
aku selesai, dan kembali lagi ke ruang tamu. Untuk menemui mereka berdua.
"Ini, teh manis untukmu." Kataku ke
Ben, sambil menaruhnya di meja
"Terimakasih banyak." Katanya
"Cuma teh, sedikit, gak banyak."
Kataku lagi
"He he he, iya."
Lalu embah pamit ke dalam. Melanjutkan
prosesi masaknya di dapur. Aku tidak bisa membantunya karena harus meladeni
tamu di depan. Tamu yang istimewa bagiku, dan yang pagi-pagi sudah ada di sini,
dengan cara yang mendadak. Tamu itu bernama Ben, yang sudah akan bicara lagi:
"Ini pesananmu," katanya sambil
menaruh sesuatu di meja, "burcangjo yang lezat dan penuh gizi."
"He he he, makasih. Tapi aku gak
pesan."
"Oh, gitu, ya?" Tanya dia "Ya,
sudah, sini biar ku bawa pulang lagi."
"Ha ha ha ha, jangannn!!" Jawabku,
"aku mauuu, aku lapar."
”He he he, cuma akting. Sana ambil mangkuk,
mumpung hangat."
Iya, kataku. Kemudian aku pergi untuk ambil
sendok dan mangkuk. Dan kembali lagi untuk langsung membuka plastik bubur itu
dan menuangkannya ke dalam mangkuk. Suhunya masih hangat dan sepertinya memang
lezat untuk segera aku makan. Ben tidak mau ketika kutawari makan juga, dia
bilang sudah beli dan ada di motor.
Seberes aku makan, dia langsung pamit pulang.
Katanya harus kasih makan burung di rumah. Baiklah, hati-hati di jalan, Ben.
Utamakan keselamatan, bukan kekeliruan, kekeliruan untuk memilih jalan yang
salah. Sehingga jika kamu melakukannya, maka percayalah, pasti kamu akan
tersesat dan tak tahu arah.
“Hallo..”
itu suara dari telepon yang tadi berdering. Ketika kuangkat, ternyata suara
Ben.
“Hai..”
jawabku, “Udah sampai?”
“Udah,”
katanya, “Lagi kasih jangkrik ke burung, kau mau?”
“Hiii
gak mau!!”
“Ini
jangkriknya baik loh.” katanya
“Gak
mau.”
“Yakin?
Gendut ini jangkriknya, banyak gizi?”
“Gak
mauuu!!” jawabku, menolaknya, sambil menyembunyikan senyuman yang dari tadi aku
lakukan. Disebabkan olehnya yang aneh.
”Yaudah.
Kenalan aja apa? Namanya BOBY.” Dia bilang
“Boby,
kenalin ini, Runa. Aruna. Cantik, sih. Tapi jangan mau, ya. Jarang mandi dia,”
sambung Ben, seakan-akan dia sedang bicara sama si jangkrik.
“Ha
ha ha ha ha.” Aku ketawa, Ben sedikit
“Husst!!
Jangan ketawa.” Kata Ben ke aku
“He
he he, kenapa?” kutanya
“Ketawamu
bagus, nanti dia suka.”
“Ha
ha ha ha. Siap, kapten” kataku, seraya menutup mulut
“Udah
dulu. Mau mandiin jangkrik.”
“Orangnya,
tuh, suruh mandi.”
“He
he he, iya.” Si Ben ketawa, habis itu dia tutup telepon. Benar-benar sudah gila
kayaknya dia. He he he. Tapi aku suka.
2
Semua menjadi begitu indah ketika hubungan kami berdua
menjadi semakin dekat, dan terus-menerus mendekat. Ketika hampir setiap malam Ben
pasti menelponku, dan berbicara banyak mengenai negara yang terlalu otoriter,
tentang petani yang kasihan tanahnya di labrak oleh mesin-mesin raksasa milik
perusahaan, dan banyak lagi. Itu adalah bagian kecilnya. Karena lebih banyak yang
ia ceritakan mengenai hal yang menyenangkan dan menggembirakan.
Waktu bergerak begitu cepat, kenangan berlalu, semua
terjadi dengan oke dan baik-baik saja. Seakan-akan waktu sedang membawaku
terbang jauh kedepan.
Dan terus-menerus tumbuh dan berkembang
perasaan itu kepadanya. Perasaan yang mendorongku dan sekaligus memberiku
kekuatan, untuk setidaknya pada setiap pagi, aku ingin cepat-cepat bangun dan
memastikan apakah dia masih ada di bumi.
Seharusnya kamu tahu, kalau aku tidak sempat
menolak perasaan yang datangnya bertubi-tubi itu. Perasaan yang alami dan
aktif. Lalu, hanya bisa aku perdalam. He he he, sedalam mungkin kepadanya.
Aku juga berusaha memposisikan diriku sebaik
mungkin di depannya. Dengan tenang sebagaimana dia kepadaku. Dan dengan penuh
riang gembira.
Aku merasa bahwa pada saat itu, aku
benar-benar sudah menyukainya sebagai orang yang hanya dengan sederhana, bisa
membuatku senang dan dinaungi suasana ketawa. Kemudian yang aku harapkan adalah
mudah-mudahan ini berlangsung cukup lama, lebih lama, dan kalau perlu ya
selamanya. Apa kamu bisa mengerti? Coba, deh kamu di posisiku. Pasti bakal
tahu!
Kadang juga aku sering merasa tersihir oleh
puisi yang dia beri. Seolah-olah ada mantra ajaib yang menaunginya, sehingga
aku bisa betah dan nyaman dalam prosesi membaca. Sekaligus juga membuat perutku
adem, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalamnya. Lalu, ketika di
telpon dia bicara:
"Tersenyum dan gembira." Katanya
"Maksud ngana?" Tanyaku (maksud
kamu?)
"Iya," katanya, "kamu cuma
harus tersenyum dan gembira, supaya aku bisa menulis puisi yang baik."
"Oh? He he he, siap."
"Nah betul, begitu." Katanya
Terus tiba-tiba dia sudah kirim puisi. Dan
tidak tahu kenapa aku tidak pernah bosan untuk membacanya, karena yang dia beri
berbeda dengan yang lain. Karena aku bisa merasakan dia tulus memberinya. Dan
penuh energi yang dia salurkan ke dalam puisi yang banyak humor dan santai itu.
Atau, mungkin salah satunya begini:
Judulnya, Hai
Sekarang, hujan deras dari atas
Hari sudah malam di dalam selasa yang dingin
Ini tentu akan jadi lebih baik jika kau bersamaku
Aku pesan kopi
Kau pesan susu
Bebas, kau boleh pilih
Di sini, angkringan atau di sorga.
Ben, 2020
Saya
Saya melihatmu sebagai hal lain
Gadis manis di bulan
Desember
Tetap cantik meskipun
bersin
Tetap riang meskipun
bunganya layu
-
Ada bagusnya bila kamu
diam saja
Seperti bulan yang
tenang
Atau semacam laut yang
luas dan misteri
Atau senyum ringan saja
seperti itu
-
Mudah-mudahan itu benar
ya, Run
Apa yang juga di dalam
hatimu
Jiwa yang bergejolak
Anak muda yang aktif
Dan Menyenangkan
Atau, kalau saja kamu mengerti:
Judulnya, Penelitian
Menurut hasil penelitianku sendiri
Kecepatan rindu menjadi sangat tinggi
Dari waktu ke waktu menjadi lebih kuat
Menjadi lebih cepat dari kecepatan cahaya
Untuk memasukkan sebagian besar dirimu
Ke dalam kepalaku!
Ben, 2019
Mungkin bagimu itu biasa saja. Tapi bagiku itu istimewa.
Mungkin kamu tidak mencintai dirinya. Mungkin kamu tidak menyukai dirinya, tapi
syukurlah kalau begitu, sehingga aku tidak perlu bersaing denganmu untuk bisa
memilikinya.
3
Kemudian, setelah lama kupendam perasaanku kepadanya.
Tiba-tiba aku teringat kepada mba Lia, seperti ada kabar angin yang
mengingatkanku kepada dirinya, yang adalah sebagai mantan kekasih Ben di masa
lalu. Mereka memang sudah berpisah hampir satu tahun yang lalu. Tetapi
tiba-tiba muncul perasaan bersalah karena aku sudah mencintai Ben, karena aku
sudah melukai perasaan mba Lia.
Sebelum lanjut, biar kujelaskan siapa itu mba Lia. Dia
adalah kakak kelasku. Sekaligus juga kawan yang sangat akrab dan dekat
denganku, dan itu terjadi karena kami satu ekskul, yaitu basket. Aku
mengenalnya sejak masih SMP, dan menjadi sangat dekat semenjak saat itu.
Sementara, mba Lia, adalah mantan kekasih Ben di masa lalu. Yang meskipun
begitu, pembenaran apapun yang kulakukan, adalah tetap salah karena telah
menyukai mantan kekasih temanku sendiri. Dan kurasa mba Lia memang masih
menaruh hati pada Ben. Tetapi aku tahu kalau Ben sudah benar-benar move on
darinya. Itu sudah dibuktikan oleh Ben, dan tidak cuma dengan kata-kata belaka.
Itu kerasa sangat pahit, dan menusuk-nusuk.
ketika mungkin mba Lia sudah tahu kalau aku menyukai Ben. Dan itu kurasakan
ketika dia membuat semacam status di whatsappnya. Ya Tuhan. Aku kejam sekali
rasanya, setelah sadar yang kulakukan adalah kesalahan. Meskipun cintaku adalah
kebenaran.
Sehingga karena ini, aku bercerita kepada
kawanku. Kawan yang kupercayai bisa memberiku solusi, atau setidaknya bisa
membuatku tenang untuk berpikir lebih jernih. Beberapa ada yang memberi saran
untuk supaya aku segera mengakhiri hubunganku dengan Ben. Ada juga yang
berpendapat bahwa, kamu benar Runa, karena kamu mencintainya dan Ben begitu
kepadamu. Kamu tidak harus mundur karena merasa gak enak ke mba Lia. Ini bisa
dibicarakan, seharusnya.
Semua menjadi berkecamuk di kepalaku.
Sehingga itu juga berdampak kepada sikapku kepada Ben. Sikapku yang berubah
kepadanya. Menjadi begitu dingin dan cuek. Sampai pada akhirnya Ben mengetahui
apa yang sedang terjadi. Dia berusaha mengerti perasaanku, dengan cara
memintaku untuk tenang dan jangan terlalu dipikirkan. Katanya ini adalah
urusannya dengan mba Lia, yang sebenarnya sudah beres sejak lama. Tapi, ini
juga adalah urusanku, karena aku terlibat, dan karena mba Lia adalah kawan
dekatku. Tidak bisa aku menghindar dan menjadi orang yang jahat karena tidak
peduli terhadap perasaan kawan yang selalu baik kepadaku. Bahkan sudah
menganggap aku sebagai adiknya sendiri.
Perlahan, pondasi yang kubuat dengan Ben selama
ini langsung runtuh berantakan. Perasaan yang kami bangun bersama. Tiba-tiba
jadi porak-poranda dan tidak karuan. Serba bersalah dan bingung. Aku
mencintaimu, Ben. Aku menyayangimu. Tetapi keadaan memaksaku untuk berhenti,
untuk tidak melanjutkan dan segera mengakhirinya. Aku harap kamu bisa mengerti
dan paham. Aku harap, kamu tidak menaruh benci kepadaku. Kalaupun iya, maka
tidak apa-apa, biar aku terima. Tetapi kamu harus tahu bahwa aku juga tidak
ingin ini berakhir, aku tidak ingin kita berpisah.
Beberapa hari aku menghilang, dan Ben
menghubungiku untuk mau ngobrol. Sempat terjadi kehangatan, seperti angin yang
memberi kabar baik. Tetapi itu tidak lama, itu hanya sementara dan berakhir aku
memang tidak bisa melanjutkannya. Aku harap kamu mengerti ketika membaca ini,
cobalah kau ada di posisiku, pasti ngerti, deh!
Bagian 7: Aku Menghilang
Seperti yang sudah kukatakan. Aku tidak bisa lagi melanjutkan semua ini.
Meskipun aku sangat ingin melakukannya, bersama Ben, sebagai orang yang kusuka.
Sebab terlalu berat buatku jika harus memilih, antara pertemanan dan cinta
kepada seseorang. Aku tidak ingin dicap egois dan jahat karena lebih
mementingkan ego dan kepentinganku, atas cintaku kepada Ben.
Tidak bisa kujelaskan lebih dalam lagi kepada
Ben, jika memang dia tidak bisa mau paham dan mengerti. Tetapi syukurlah, dia
mau mengerti dan bilang terserah kepadaku mau bagaimana. Aku tahu kalau
sebenarnya Ben sangat ingin menentang keputusanku, kalau dia mau. Tetapi dia
tidak. Tetapi dia memilih untuk menghargai keputusanku. Meskipun pasti
perasaannya sangat kacau.
Hari-hari berlalu kemudian dengan perasaan
rindu yang sudah menumpuk di meja kerja. Aku mencoba menyibukkan diri dengan
caraku. Mudah-mudahan Ben juga begitu. Sehingga kita bisa berbiasa lagi dengan
kehidupan yang harus tetap berjalan.
Lalu, ketika kupikir, kalau aku masih
kadang-kadang ada kontak dengan Ben. Maka kurasa itu akan sangat mengganggu
proses move on ku kepadanya. Justru itu akan membuatku sulit untuk melupakan
dia. Menyebabkan aku harus mengingat lagi kejadian yang dulu. Seperti saat
ketika pulang sekolah, aku duduk berdua dengan Ben di gazebo. Sebetulnya tidak
berdua, banyak dengan kawan-kawannya.
Lalu dia mengajakku pulang. Menawariku untuk
diantar tetapi gak usah kataku. Meskipun pada akhirnya, dia terus membuntutiku
sampai terus, untuk tujuan mengantar aku pulang. Dia bawa motor, aku juga. Aku
pikir dia mau sekalian mampir, tetapi yang ada malah dia terus lurus ketika aku
berbelok masuk ke gang yang sudah dekat dari rumahku. Aku senyum-senyum sendiri
melihatnya dibawa oleh motor. Dan saat ketika aku sampai rumah, barulah aku
sadar bahwa dia hanya ingin memastikan supaya aku sampai di rumah dengan
selamat dan aman. Tidak lebih dengan keinginan untuk ikut ke rumah. Kurasa itu
keren, dan tidak perlu diperdebatkan.
Dan pada akhirnya, keputusan yang kuambil
adalah dengan memblock semua akun miliknya dari akunku. Sehingga dia tidak akan
bisa menghubungiku, lewat jalur media sosial apapun. Kecuali kalau dia mau
datang ke rumah dan bicara. Itu tidak mustahil baginya, dan terkesan gampang
karena pembawaannya yang begitu tenang dan berani. Seperti ketika dia tiba-tiba
datang ke rumah dan membawa martabak manis serta telor dadar untukku. Katanya
pasti kau belum makan dan harus makan dengan telor itu. Itu sudah malam dan dia
datang bersama kawannya, Fian.
Oh, Tuhan.
Tetapi setelah itu, dia tidak pernah datang
lagi. Dan aku yang tak pernah memberi kabar kepadanya. Kupikir semua sudah
selesai ketika itu. Kupikir aku sudah benar-benar berpisah dengannya. Dan dia
sudah pergi. Meskipun dia akan selalu ada dihatiku. Tetapi dengan keberadaannya
di bumi, setidaknya sudah membuatku merasa senang.
Semenjak saat itu, aku benar-benar menghilang
darinya. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Dan tidak ada pertemuan.
Berbulan-bulan sampai sekarang. Tetapi perasaan itu masih ada, dan masih sama
seperti ketika dia bersamaku dulu.
Maafkan aku mba Lia, karena sudah menyakiti
perasaanmu. Maafkan aku Ben, karena sudah membuatmu kecewa. Maafkan aku,
maafkan, aku.
Bagian 8: Khabar Mba Lia
Belakangan kudengar kabar kalau mba Lia sudah ada yang sedang mendekatinya.
Maksudku, sedang ada orang yang berusaha mengambil hatinya dan mencuri
perhatiannya. Banyak kabar mengenai hal itu dan didukung oleh status-status
medsosnya mba Lia sendiri. Dan orang itu bukanlah Ben. Dia orang lain. Tetapi
masih sebagai kawan Ben. Atau orang yang juga dekat dengan Ben waktu mereka
masih kelas 10. Tidak tahu waktu kelas 11. Tetapi kelas mereka bersebelahan.
Aku tidak tahu komentar Ben soal ini, dan aku juga tidak ingin
membahasnya. Itu bukan urusanku. Dan sama sekali aku tidak boleh mencampurinya.
Tentu saja, kalian bisa menilainya sendiri dan bisa sama-sama mengambil
pelajarannya. Bahkan meskipun mungkin tidak ada.
Anak yang sedang dekat dengan mba Lia bernama Anton. Sekarang,
dia kelas 12 SMA. Sama denganku, di sekolah yang sama. Sementara mba Lia sudah
lulus SMA, dan kabarnya sudah diterima di suatu universitas yang ada di
Semarang. Keren. Mudah-mudahan dilancarkan semuanya.
Bagian 9: Rindu Ben
Rasa-rasanya tidak
perlu lagi kalian tanyakan, apakah aku merindukannya atau tidak. Karena yang
jelas pastilah aku selalu rindu kepadanya. Rindu kepada cara dia berbicara dan
membuatku senang dengan gampang dan sederhana, dengan tenang dan tanpa banyak
pikiran.
Tetapi sekarang adalah hal
lain. Aku bukan lagi aku pada waktu itu. Tetapi aku akan tetap rindu. Akan
tetap mencintainya di dalam gejolak rasa hati anak remaja. Sebab bagaimanapun,
kita tidak akan pernah bisa menghindar dari yang namanya rindu. Itu akan selalu
menghantui dan menaungi kita sebagai pelindung.
Mudah-mudahan kamu baik-baik
saja di sana. Di bumi yang indah, katamu. Di bumi yang asri, bilangmu. Dan di
bumi yang ada akunya, he he he, katamu juga.
Sekian, terimakasih. sudah
sedia mau membaca. Sampai habis.
Biografi penulis:
Namanya Adendra. Adendra Daris Prasetyo. Ia lahir di
Purbalingga pada 05 Februari, tahun
2003. Kesehariannya adalah makan dan tidur. Hobynya suka mancing ikan dan bermain
game. Ia sekarang bersekolah di suatu SMA yang ada di Bobotsari, dan sedang
duduk di bangku kelas 12. Ia juga kadang suka menulis, ketika tidak tahu lagi
apa yang harus dia lakukan. Tujuannya ke bumi adalah untuk Jum’atan. Senin
sampai kamis persiapan. Sabtu-minggu evaluasi. Itu adalah kata-kata favoritnya,
dari salah satu petani di Indonesia.
Komentar
Posting Komentar